REDAKSI22- Mengerikan! Kasus Gay di kota Merauke sudah marak dan merambah hingga ke kalangan siswa dan pelajar yang masih duduk bangku di sekolah, dua (2) orang pelajar/siswa ditemukan tertular HIV/AIDS.
Kaum Gay merujuk pada pria yang memiliki orientasi seksual, rasa cinta, atau ketertarikan emosional dan fisik terhadap sesama jenis (pria).

Kasus Gay disebut pula dengan istilah LSL (Laki-laki Seks Laki-laki). Kasus ini oleh banyak lembaga kesehatan dunia dianggap sebagai variasi orientasi seksual, bukan penyakit mental atau gangguan jiwa murni. Gay dipengaruhi oleh faktor yang kompleks, termasuk biologis, genetik, dan lingkungan sosial.
“Kaum Gay atau LSL merupakan bagian dari kelompok yang lebih luas yakni LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender),” ungkap E. Wuryanto, Petugas Lapangan Yayasan Pelangi Maluku usai kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Penanggulangan HIV/AlDS di Kantor Bupati Merauke, Kamis (13/08/2026).

Wuryanto menyebutkan, Yayasan Pelangi Maluku gencar melakukan pendampingan dan penjangkauan terhadap kelompok Gay atau LSL di Merauke yang dinilai paling berisiko untuk penularan HIV/AIDS.
“Kasus Gay atau laki-laki seks laki-laki (LSL) ini sudah marak di Merauke sudah merambah ke dunia anak sekolah, kalangan pelajar. LSL ini ada di LGBT (lesbian gay, biseksual dan transgender,” sebut Wuryanto.

Ia menjelaskan faktor penyebab yang dapat mempengaruhi munculnya kasus LSL atau Gay tersebut sebagian besar karena desakan ekonomi keuangan dan tekanan hidup dari dalam lingkungan keluarga itu sendiri.
“Kasus ini sudah menjangkau dunia anak sekolah. Kenapa demikian? Karena faktor keuangan, orangtua jauh sehingga mereka mudah dirayu (sa kasih ko uang lima puluh ribu, ko tidur deng Sa). Mungkin dia mau, dan menjadi kebiasaan untuk mendapatkan uang,” ungkapnya.

“Itu yang membuat dia nyaman sehingga berlanjut lagi dan dia juga menjadi pelaku LSL. Yang berikutnya mungkin karena tekanan dari keluarga,” lanjutnya.
Meski demikian, kata Wuryanto, pelaku LSL atau Gay tersebut akan menutupi kedoknya dengan cara menunjukkan diri sebagai laki-laki yang berpacaran atau menikah dengan perempuan agar tidak dipergunjingkan oleh masyarakat sekitarnya.

“Tetapi untuk menutupi jati dirinya sebagai Gay karena bertentangan dengan lingkungan sosial, dia lalu menikah dengan perempuan hanya untuk mengelabuhi,” tukas E. Wuryanto.
Hasil penelusuran kasus Gay di Merauke, sebutnya, petugas Yayasan Pelangi Maluku mewawancarai langsung pelaku atau korban dan menemukan dua (2) kasus pelajar yang sudah terjebak masuk ke dalam kelompok Gay atau LSL.
“Kami temukan 2 kasus Gay di Merauke, pelaku atau korbannya anak SMP dan SMA. Gay itu sendiri ada tiga tingkatan, yakni senior, tengah dan yunior. Tingkatan yunior ini biasa kaum ABG yang mulanya coba-coba, terus rasa enak dan lanjut lagi,” jelas Wuryanto mendetail. (*)
Penulis/Editor: Hendrik














