REDAKSI22.COM – Ribuan warga kota Merauke menghadiri ibadah kebaktian kebangunan rohani (KKR) yang bertajuk ‘Papua Selatan Bermazmur’ yang digelar di lapangan Monumen Kapsul Waktu, Jumat sore (28/08/2026).
Kebaktian rohani ‘Papua Selatan Bermazmur’ adalah gerakan pemulihan moral dan spiritual yang digagas Kejaksaan Negeri Merauke bertemakan “Harmoni Persaudaraan dalam Kasih Tuhan untuk Papua Selatan yang Damai dan Taat Hukum.”

Tampil memberikan siraman rohani dalam ibadah Papua Selatan Bermazmur; Pastor Alberto John Kristoforus Bunay Pr, imam Keuskupan Jayapura, penyanyi rohani Virgi Hutauruk dan Jacqlien Celosse dan juga dihadiri Forkopimda Papua Selatan dan Kabupaten Merauke, tokoh agama, tokoh adat, pelajar, pemuda dan warga masyarakat.
Kepala Kejaksaan Negeri Merauke, Dr. Paris Manalu, selaku Ketua Panitia Papua Selatan Bermazmur dalam sambutan menyebutkan momen tersebut menjadi momentum refleksi yang mengajak umat/warga untuk mempererat tapi silaturahmi dan persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat.

‘Papua Selatan Bermazmur bukan sekadar kegiatan seremonial dan panggung puji-pujian. Kegiatan ini adalah wujud ungkapan iman dan kerinduan hati kita bersama untuk melihat Papua Selatan semakin damai, rukun dan generasi muda memiliki masa depan yang lebih baik,” kata Paris Manalu.
Paris Manalu mengajak generasi muda di Papua Selatan untuk ikut menjaga kedamaian dan kerukunan hidup, meningkatkan semangat kerohanian dengan memperkuat iman, karakter dan pendidikan serta menjauhi bahaya narkoba, minuman keras dan kekerasan.

“Tanah Papua Selatan adalah rumah kita, dan masa depan Papua Selatan ada di tangan generasi muda. Mari kita ciptakan suasana Damai dan rukun dengan menjalin persaudaraan, cinta kasih dan kebersamaan,” ajaknya.
Sementara itu, Gubernur Papua Selatan yang diwakili Staf Ahli Gubernur Bidang Otonomi Khusus, Soleman Jambormias mengapresiasi pelaksanaan kebaktian rohani ‘Papua Selatan Bermazmur’ yang dinilai membawa pesan positif dan membangunkan kesadaran masyarakat.

Ia mengajak masyarakat untuk membangun optimisme tentang masa depan Papua Selatan dan bijak dalam penyampaian ide, kritikan dan saran yang konstruktif kepada pemerintah termasuk bijak saat menggunakan media sosial.
‘Ketika kita duduk di taman, kita berpikir tentang hal-hal yang positif. Ketika kita duduk di kafe-kafe, kita bicara hal-hal yang positif tentang masa depan, ” ajaknya.

“Masyarakat kita harapkan agar tidak hanya mengkritik pemimpin, tetapi turut mendoakan mereka agar diberikan kebijaksanaan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. Selain itu, kita juga menanamkan optimisme kepada pelajar dan generasi muda untuk memiliki masa depan yang penuh harapan,” ujarnya.
Sekda Kabupaten Merauke, Yermias Paulus Ruben Ndiken ikut mengajak masyarakat dan seluruh denominasi gereja untuk terus mendoakan Merauke dan Papua Selatan serta menjauhi kekerasan dan pertumpahan darah.
“Setiap sudut kota ini harus kita doakan. Jangan sampai terjadi pertumpahan darah. Kedamaian menjadi modal penting agar masyarakat mencari nafkah tanpa rasa takut, termasuk mama-mama Papua yang setiap hari menjual hasil kebun maupun dagangannya,” imbaunya.
Menurutnya, perbedaan suku, budaya maupun daerah asal tidak menjadi sumber perpecahan. Generasi muda khususnya orang asli Papua (OAP) perlu didorong untuk membangun kepercayaan diri dan meningkatkan kemampuan serta berani bersaing.
“Jangan merasa rendah di tanah sendiri. Berjuanglah sekuat tenaga. Bangunlah kepercayaan diri, pesannya. Semangat Papua Selatan Bermazmur tidak berhenti ketika ibadah berakhir, tetapi terus dibawa ke dalam keluarga, lingkungan kerja, dan kehidupan masyarakat,” imbuhnya.
“Biarlah suara pujian kita tidak hanya memenuhi kawasan Monumen Kapsul Waktu, tetapi bergema menjadi doa dan kesaksian bagi seluruh Tanah Papua Selatan. Papua Selatan Bermazmur ditutup dengan semangat “Satu Hati, Satu Pujian, Satu Doa untuk Papua Selatan.” pungkasnya. (*)
Penulis/Editor: Hendrik














