Misa Jumat Agung, Uskup Mandagi Ajak Umat Buka Hati, Dengarkan Suara Allah

REDAKSI22.COM, MERAUKE- Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Kanisius Mandagi mengajak umat Katolik di Merauke Papua Selatan untuk membuka hati untuk mendengarkan dan mengedepankan suara Allah dalam hidup.

Ajakan Uskup Mandagi disampaikan dalam khotbahnya di hadapan ribuan umat Katolik pada misa suci Hari Jumat Agung di Gereja St. Fransiskus Xaverius Katedral Merauke, Jumat (03/04/2026).

Uskup menyayangkan dewasa ini umat Katolik lebih mendengar suara-suara dan godaan setan, mengabaikan suara Allah. Uskup Mandagi mengibaratkan Pilatus yang lebih mengedepankan suara dan teriakan orang Yahudi untuk menyalibkan Yesus dari pada suara Allah atas ketidak-bersalahan Yesus.

“Kita janganlah seperti Pilatus yang menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus, bukan karena hati nurani dan kebenarannya, tetapi lebih kepada takut jabatan politik Kekaisaran tergusur hanya karena tidak mendengarkan teriakan orang Yahudi,” imbuh Uskup Mandagi.

“Pilatus lebih mementingkan jabatan politik dan kedudukannya, dari nurani dan kebenaran. Demikian pun kita yang hidup di zaman ini. Kita lebih mementingkan suara duniawi dari pada suara Allah. Kita lebih mementingkan jabatan dan kekuasaan daripada kebenaran sejati,” sambung Uskup.

Prosesi Cium Salib umat Katolik Paroki Katedral Merauke di Hari Jumat Agung. (Foto: Hendrik)

Di misa Jumat Agung ini, Uskup Mandagi berpesan agar umat Katolik lebih mendekatkan diri kepada Allah, mendengarkan suara Allah, mengikuti suara nurani dan kebenaran yang berasal dari Allah dari mendengar bisikan dan godaan setan.

“Kita jangan tergelincir dengan suara-suara politik yang sebenarnya suara setan. Tergelincir dalam kesenangan-kesenangan duniawi. Saudara-saudara sekalian, jangan takut. Suara Allah bisa dihidupkan, tidak perlu mati,” tekan Uskup.

“Suara Allah atau suara hati kita itu bisa mati kalau kita tidak berdoa, merayakan Ekaristi dan tidak membaca kitab suci. Suara Allah akan bergema, kalau kita berdoa melakukan semua hal baik,” tukasnya.

Ia mengingatkan ketika suara Allah atau suara hati tidak didengarkan atau diabaikan, manusia lebih suka menghakimi dan melakukan kekerasan terhadap sesama yang dari ajaran cinta kasih Yesus. Yesus wafat di kayu salib membuktikan cinta kasih yang tanpa batas untuk menyelamatkan dosa umat manusia.”

“Marilah kita membuka hati untuk mendengarkan suara Allah. Mari kita meneladani cinta kasih Yesus dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam keluarga, lingkungan, tetangga dan masyarakat sekitar kita. Semoga,” ajak Uskup Mandagi. (*)

Penulis: Hendrik

Editor: Hen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *