Resmikan Gereja Kelapa Lima Merauke, Uskup Mandagi: ‘Rumah Tuhan Kudus, Tak Boleh Didemo’

REDAKSI22.COM, MERAUKE – Gereja Sta. Maria Fatimah Kelapa Lima Merauke Papua Selatan akhirnya Diresmikan oleh Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC dalam misa pemberkatan, Senin (06/04/2026).

Ribuan umat memenuhi ruangan gereja Santa Maria Fatimah mengikuti perayaan misa pemberkatan. Turut hadir Bupati Merauke, Yoseph Bladib Gebze, Sekda Papua Selatan, Ferdinand Kanakaimu, Ketua DPRP Papua Selatan, Heribertus Silubun, Ketua MRPS Damianus Katayu, Kapolres Merauke, AKBP Leonardo Yoga dan seluruh tamu undangan.

Dalam khotbahnya Uskup Mandagi menegaskan, gedung gereja adalah bait Allah (rumah Allah), sehingga umat diwajibkan untuk menghormati dan menjaga rumah Allah. Gedung gereja wajib dihargai dan dihormati karena menjadi tempat kudus yang di dalamnya Allah berdiam.

“Gedung gereja adalah kudus, maka harus dihargai dan dihormati. Umat wajib menjaga kekudusan gedung gereja. Tidak boleh ada demo atau aksi unjuk rasa di gereja. Jangan karena ada kepentingan politik dan uang, maka masyarakat demo di gereja. Hal itu tidak boleh dan pantang untuk dilakukan,” tegas Uskup Mandagi.

“Jangan mengatasnamakan Tuhan untuk meraih tujuan tertentu. Apalagi bawa nama Uskup atau pastor. Gereja itu tempat suci, sehingga wajib dihormati, dijaga kesucian. Jangan hanya Gereja Katolik, tetapi, semua tempat ibadah baik itu masjid, pura dan lainnya. Itu rumah-rumah Allah, jangan ada perbuatan tidak suci di rumah Allah” sambungnya.

Pengguntingan pita secara bersama-sama oleh Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, Bupati Merauke, Yoseph B. Gebze, Sekda Papua Selatan, Ferdinandus Kanakaimu, Tokoh Masyarakat, Romanus Mbaraka dan pejabat lainnya pada peresmian Gereja Santa Maria Fatimah Kelapa Lima Merauke. (Foto: Hms Pemprov PS).

Uskup Mandagi menekankan kesucian dan penghormatan terhadap bait/rumah Tuhan dengan mencontohkan perikop yang ada dalam kitab suci (Matius 21:12-13); Yesus mengusir pedagang dan penukar uang di Bait Allah di Yerusalem.

“Karena mereka mengubah rumah doa menjadi ‘sarang penyamun’ dan tempat berdagang yang serakah. Yesus menjungkirbalikkan meja penukar uang dan kursi penjual merpati dengan cambuk tali sebagai wujud kemarahan suci atas ketidakhormatan terhadap rumah Bapa-Nya,” kata Uskup mengutip isi kitab suci Injil Matius 21:12-13.

Gedung gereja itu, kata Uskup, lambang kesucian Bait Allah yang fondasinya adalah Yesus Kristus. Gereja adalh lambang persekutuan orang-orang beriman yang percaya kepada Allah. Di dalam gereja/rumah Tuhan terjalin persaudaraan.

“Setiap kali melewati gedung gereja, kita kenang Yesus Kristus sebagai fondasinya. Kita juga diingatkan akan gereja yang sejati, yakni persaudaraan umat beriman yang meteraikan dengan salib tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan. Kita harus saling menghargai persaudaraan cinta kasih,” ucapnya.

“Gedung gereja juga melambangkan umat yang berdoa dan setiap hari selalu merayakan Ekaristi, melaksanakan perutusan dan saksi-saksi di tengah dunia. Jadi saksi Kristus di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat dan negara,” tandas Uskup. (*)

Penulis: Hendrik

Editor: Hen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *