Inspeksi ke Gudang Bulog Merauke, Anggota DPD RI Soroti Soal Gagal Panen

REDAKSI22.COM, MERAUKE – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Selatan, Sularso melaksanakan inspeksi (sidak) ke gudang Bulog Merauke, Kamis (07/05/2026), untuk memastikan kondisi stok cadangan pangan di Papua Selatan di tahun 2026.

Sularso yang juga menjabat Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Papua Selatan menyoroti berbagai problema yang dihadapi petani di Merauke, mulai dari cuaca ekstrem, serangan hama hingga bencana banjir yang memicu gagal panen petani yang berdampak pada menurunnya produksi padi.

“Saya ingin melihat langsung kondisi stok beras kita untuk tahun 2026. Di lapangan banyak petani mengalami gagal panen akibat hama, tanaman menguning, hingga kebanjiran. Ini tentu mempengaruhi produksi pertanian, terutama beras,” ujar Sularso saat di gudang Bulog Merauke.

Dia optimistis cadangan pangan Papua Selatan masih dalam kondisi aman setelah mendengarkan klarifikasi dari Kepala Bulog Merauke. Diakuinya, penyerapan gabah dan beras belum mencapai target, namun proses pembelian hasil panen petani masih tetap berjalan secara bertahap.

“Cadangan pangan tahun 2026, insyallah masih aman. Walaupun penyerapannya belum sesuai target Bulog, sedikit demi sedikit tetap ada penyerapan,” akunya.

Sularso meyakini kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi salah satu faktor utama sulitnya mencapai target penyerapan tahun ini. Padahal pada tahun sebelumnya, capaian penyerapan Bulog bahkan mampu menembus hingga 147 persen dari target yang ditetapkan.

Penyerahan plakat penghargaan dari Kepala Bulog Merauke, Karennu kepada anggota DPD RI, Sularso. (Foto: Hendrik).

“Meski dihadapi berbagai tantangan, semangat petani di Merauke untuk tetap bercocok tanam masih cukup tinggi. Oleh karena itu, pemerintah harus hadir lebih maksimal memberikan pendampingan kepada para petani di lapangan,” tukasnya.

Sularso juga menyoroti minimnya pendampingan dari penyuluh pertanian lapangan (PPL) maupun Dinas Pertanian ketika petani menghadapi serangan hama dan cuaca ekstrem. Petani membutuhkan berbagai pendampingan ekstra agar tidak kebingungan mencari solusi saat tanaman mereka terserang penyakit.

“Petani sampai mencoba berbagai cara sendiri karena tidak tahu harus bertanya ke mana. Ada yang mencampur obat dengan tembakau dan berbagai racikan lain untuk menyelamatkan tanaman mereka,” ucapnya.

Persoalan yang dihadapi, lanjutnya, harus menjadi bahan evaluasi bersama, termasuk menentukan varietas padi yang cocok saat curah hujan tinggi serta langkah penanganan hama yang tepat agar produksi pertanian tetap terjaga.

Lebih lanjut, Sularso menyinggung program optimalisasi lahan dan pembukaan lahan baru yang telah berjalan sejak 2025. Luas pembukaan lahan yang sudah mencapai ratusan ribu hektare seharusnya sejalan dengan peningkatan produksi beras di Merauke.

“Program strategis nasional (PSN) ini harus benar-benar dievaluasi. Pembukaan lahan sudah besar, tetapi produksi belum meningkat sesuai harapan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Pimpinan Cabang Bulog Merauke, Karennu mengaku pihaknya terus berupaya menjaga stabilitas cadangan pangan di Papua Selatan. Hingga saat ini Perum Bulog Merauke telah berhasil menyerap sekitar 2.000 ton beras petani lokal dari total stok yang tersedia mencapai 4.200 ton.

“Cadangan pangan untuk tahun 2026 insyallah aman. Walaupun penyerapan belum sesuai target, kami terus bergerak sedikit demi sedikit,” kata Karennu.

Ia menyebut target penyerapan beras sebesar 27.500 ton bukan hal mudah di tengah kondisi produksi petani yang menurun akibat cuaca dan serangan hama. Meski demikian, Bulog tetap optimistis target tersebut dapat dicapai melalui kerja sama lintas sektor.

“Bulog telah membangun komunikasi intensif dengan pemerintah daerah, TNI, dan Polri guna memastikan distribusi dan penyerapan hasil panen petani tetap berjalan maksimal,” tandasnya. (*)

Penulis: Hendrik

Editor: Hen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *