Minggu Palma Awali Pekan Suci, Umat Katolik Diajak Rendah Hati, Rela Berkorban

REDAKSI22.COM, MERAUKE – Ribuan umat Katolik di Keuskupan Agung Merauke Provinsi Papua Selatan melakukan perarakan daun palma di gereja-gereja pada perayaan Minggu Palma (29/03/2026).

Di Gereja Keuskupan, yakni Paroki Katedral Merauke, umat Katolik yang berjumlah ribuan orang mengikuti perarakan dari Lapangan Mandala menuju Gereja Paroki Kathedral Merauke. Selanjutnya, umat mengikuti misa suci yang dipimpin oleh Pastor Paroki, RP Hendrikus Kariwop, MSC didampingi RD Roy Sugianto, Pr beserta konselebran.

Perarakan daun Palma serupa juga dilakukan umat Katolik pada hari Minggu Palma di gereja-gereja lain di Keuskupan Agung Merauke bahkan di seluruh gereja Katolik sejagat sebagai peringatan Yesus masuk Kota Yerusalem dan dielu-elukan dengan dedaunan.

Dalam tradisi Gereja Katolik sejagat, Minggu Palma yang diperingati sebagai peristiwa Yesus Tuhan memasuki Kota Yerusalem 2026 tahun silam dan disambut sebagai Raja. Peristiwa ini terjadi sebelum kisah sengsara, wafat dan bangkit dari alam maut. Minggu Palma dalam kekinian menjadi tanda umat Katolik masuki Pekan Suci.

Perarakan Daun Palma di Gereja Katehdral Merauke. (Foto: Hendrik)

Dalam khotbahnya, Pastor RP Hendrikus Kariwop mengajak umat Katolik untuk meneladani kerendahan hati, ketaatan/kesetiaan dan pengorbanan yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus sebelum menderita sengsara, wafat dan bangkit dari kematian demi menebus dosa umat manusia.

“Daun Palma bagi umat Katolik adalah simbol kemenangan, kerendahan hati, kesetiaan/ketaatan dan pengorbanan. Yesus Kristus Raja semesta alam disambut dalam kesederhanaan dengan dedaunan. Yesus siap dan taat kepada Bapa-Nya untuk menanggung sengsara dan wafat untuk menebus dosa manusia,” ujar Pastor Hendrikus.

“Kita diminta untuk rendah hati, taat dan siap berkorban sebagaimana teladan yang ditunjukkan Yesus kepada kita. Dalam masa Prapaskah kita dituntut menyiapkan hati, berpantang, berpuasa, bermati raga dan turut menanggung salib bersama Yesus,” sambungnya.

Ia menekankan daun palma dalam tradisi Katolik sejagat bermakna kesetiaan umat kepada Yesus Kristus serta pengharapan keselamatan kekal. Daun palma juga simbol kerendahan hati.

“Meski disambut dengan daun palma, Yesus datang bukan dengan kuda perang, melainkan dengan keledai tanda kerendahan hati. Kristus adalah Raja yang rendah hati. Maka, daun palma bagi umat Katolik juga menjadi simbol panggilan untuk hidup rendah hati di tengah dunia,” ucap Pastor.

‘Minggu Palma juga menjadi lambang siklus rohani antara pertobatan, pengorbanan, dan kebangkitan. Dengan demikian, daun palma melambangkan kesadaran akan penderitaan Kristus sekaligus harapan akan hidup baru,” tandas Pastor. (*)

Penulis: Hendrik Resi

Editor: Hen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *