Sulit Pasarkan Hasil Bumi, Warga Kampung Boha Minta Pemerintah Bantu Armada Transportasi

REDAKSI22.COM, MERAUKE – Warga Kampung Boha, Distrik Muting Kabupaten Merauke, Papua Selatan meminta pengadaan armada transportasi air oleh pemerintah Kabupaten Merauke dan Provinsi Papua Selatan guna melancarkan upaya pemasaran hasil bumi dan produksi yang menunjang pendapatan ekonomi keluarga.

Kondisi topografi Kampung Boha di seberang Kali Bian menyulitkan warga untuk menjual hasil bumi dengan cepat ke wilayah distrik maupun ke perkotaan. Untuk mencapai Distrik Muting atau ke kota Kabupaten Merauke warga harus menempuh perjalanan menggunakan jalur perairan Kali Bian dari Kampung Boha.

Armada transportasi air yang digunakan masih berkelas tradisional seperti ketinting dan belang dengan kapasitas angkut berskala kecil dan sederhana. Syukur-syukur bisa menggunakan speed boat dengan daya muat yang sangat lebih besar, namun menelan biaya yang sangat mahal.

“Kalau kita lihat di sini, aksesnya tuh yang sudah. Masalah ekonomi, kita lihat di sini hasilnya melimpah baik pertanian maupun perikanan, hanya untuk mengekspor hasil bumi ini sangat tidak didukung oleh armada transportasi. Keterbatasan armada transportasi yang menjadi kendala utama,” ungkap Wilfridus K. Kaize, Ketua Adat Imo Wilayah IV ketika diwawancara awak media di Kampung Boha, Rabu (26/11/2025).

Ketua Adat Imo Wilayah 4 Wilfiridus K. Kaize. (Foto: Hendrik)

Wilfridus menuturkan, sumber daya alam di wilayah Kampung Boha sangat melimpah seperti Ikan, daging, gaharu, karet dan lainnya sebagainya. Namun terkendala transportasi untuk pemasaran hasil. Transportasi belum memadai sebagai sarana utama pergeseran hasil bumi bumi dari Kampung ke kota.

“Ada banyak hasil di sini. Terus selama ini bagaimana cara jual? Ya, kalau memang untuk penjual, itu batasnya hanya di Muting. Jadi penadah dari luar, seperti dari saudara-saudara kita, dari alfasera dan lain-lain. Mereka semua tunggu hasil panen di Muting. Hasil itu kita bawa, tinggal mereka beli di tempat. Tapi dengan harga yang murah. Sedangkan kalau kita mau lepas lebih jauh, itu meningkat pendapatannya,” imbuhnya.

Kendala tersebut, kata Wilfiridus, tak hanya dialami masyarakat lokal. saja, Namun turut dirasakan oleh masyarakat transmigrasi yang ada di Muting untuk memasarkan hasil buminya seperti rambutan, tepung, dan lain-lain. Semuanya terkendala transportasi dalam pemasarannya.

“Sementara ini, untuk kami masyarakat di Kali Bian Distrik Muting hanya mengandalkan pada dana kampung saja, kami buat programpengadaan alat transportasi atau ketinting, Untuk memudahkan kami masyarakat untuk mungkin bisa mendapat hasil yang lebih besar,” ucapnya.

“Oleh karena itu, kami minta pengadaan dan penambahan alat transportasi sehingga mendukung masyarakat setempat untuk melakukan mobilisasi hasil bumi guna peningkatan perekonomian dan kesejahteraan keluarga,” tambahnya. (*)

Penulis: Hendrik

Editor: Hen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *