REDAKSI22.COM, MERAUKE – Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo menerima tuntutan pendemo terkait penertiban minuman keras (miras) dan pembakaran mahkota cenderawasih para pengunjuk rasa dari Aliansi Mahasiswa dan masyarakat, Senin (03/11/2025).
Dalam tatap muka, pengunjuk rasa menyampaikan tuntutan aspirasi kepada Gubernur Safanpo, pertama, mengutuk keras aksi pembakaran makota burung cenderawasih beberapa waktu lalu.
Kedua, penertiban minuman keras (miras) yang belakangan ini mengakibatkan tingkat kriminalitas tinggi di Papua Selatan, khususnya di Kabupaten Merauke.
Dalam pertemuan, Gubernur Apolo Safanpo mengapresiasi kehadiran mahasiswa pengunjuk rasa dan semua komponen yang merupakan bentuk komitmen dan kepedulian terhadap situasi dan kondisi sosial budaya masyarakat Papua Selatan.
“Kehadiran adik-adik ini mewakili masyarakat yang pada hari ini tidak bersuara,” kata Gubernur menanggapi aspirasi yang disampaikan.
Ia menyebut ada dua hal yang disampaikan dalam tuntutan, pertama, kecaman terhadap peristiwa pembakaran yang dilakukan oleh BKSDA Provinsi Papua beberapa waktu lalu.
Kedua situasi kamtibmas yang belakangan ini kurang kondusif di wilayah Provinsi Papua Selatan, secara khusus di Kabupaten Merauke, dan juga beberapa kejadian di Kabupaten Asmat dan Boven Digoel.
Terkait aksi pembakaran mahkota burung cenderawasih, Gubernur sudah mengundang BKSDA Provinsi Papua Selatan dan Provinsi Papua bersama Kepala Kantor Taman Nasional Wasur
“Mereka sudah hadir disini, bapak sudah sampaikan kepada mereka bahwa ada tiga hal yang orangtua nasehati kepada kami anak-anak Papua,” ujarnya.
“Pertama kalau kita kehilangan harta benda, materi itu sama dengan kita tidak kehilangan apa-apa. Jadi, harta benda dan material itu tidak bernilai. Kedua, kalau kita kehilangan nyawa sama dengan kita kehilangan setengah/separuh dari diri kita hilang,” sambungnya.
Ketiga, kalau kehilangan harga diri nilainya sama dengan kehilangan segala-galanya. Menurut orantua, harga diri jauh lebih penting dari nyawa. Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk mempertahankan harga dirinya.
“Jadi, jangan kita melakukan hal-hal yang bisa berpotensi mengganggu harga diri orang lain,” pesan Gubernur Apolo Safanpo.
Menurutnya, Aksu pembakaran mahkota burung cenderawasih itu salah satu perbuatan yang telah menodai harga diri orang Papua.
“Oleh karena itu, sudah kami sampaikan secara langsung kepada Kepala BKPSDA Provinsi Papua maupun Papua Selatan supaya tidak lagi mengulangi atau melakukan hal-hal serupa di waktu atau di masa yang akan datang,” lugasnya.
Disebutkan bahwa Kepala BKSDA dan Kepala Kantor Taman Nasional Wasur sudah menyampaikan permohonan maaf dan melaporkan bahwa para pelaku saat ini sedang diproses hukum oleh pimpinannya.
Hal itu juga sudah disampaikan ketika Dewan Adat Papua mendatangi Kantor BKSDA Provinsi Papua. Untuk itu apa yang disampaikan mahasiswa sesuai dengan yang disampaikan berbagai elemen masyarakat, baik masyarakat adat, mahasiswa maupun kelompok-kelompok masyarakat diseluruh tanah Papua.
“Kami juga menyampaikan keprihatinan dan mengecam keras perbuatan tersebut karena itu merupakan perbuatan yang menodai marwah, harkat dan martabat orang asli Papua,” tegasnya.
Ia menambahkan, berkaitan dengan maraknya aksi/tindakan kriminal yang meresahkan masyarakat dan mengganggu aktivitas perekonomian masyarakat di Papua Selatan, pemerintah sudah melakukan koordinasi dengan Forkopimda tingkat provinsi.
“Bahkan, kami juga mengundang Forkopimda Kabupaten Merake bersama dengan Pangdam XXIV/Mandala Trikora, LO Polda, Lo Kabinda dan semua kelompok masyarakat untuk membahas salama satu hari full,” tandasnya. (*)
Penulis: Hendrik
Editor: Hen






